23 June 2012
ADA hal yang berbeda pada laga PSAP Sigli kontra Persib Bandung di Stadion Kuta Asan Sigli Kab. Pidie, Jumat (22/6). Saat laga berjalan sekitar 25 menit, wasit yang memimpin pertandingan, Olehadi tiba-tiba meniup peluit.
Pertandingan dihentikan bukan karena terjadi pelanggaran, melainkan karena suara azan berkumandang. Seruan salat datang dari masjid yang berada di dekat stadion.
Selama azan berkumandang sekitar 3 menit, pertandingan dihentikan dan para pemain pun memilih ke pinggir lapangan.
Di Sigli, azan asar memang berkumandang sekitar pukul 16.00 WIB. Terdapat selisih waktu sekitar 45 menit dengan waktu salat asar di Bandung dan sekitarnya.
Bagi bobotoh yang biasa menyaksikan laga di Stadion Siliwangi, hal ini mungkin bukan sesuatu yang lazim. Namun bagi penonton di Stadion Kuta Asan, penghentian tersebut merupakan hal biasa.
"Ini sudah biasa untuk menghormati azan. Di sini syariat Islamnya memang kuat," kata Ruslan, salah seorang penonton di tribun VIP.
Menurut Ruslan, jika wasit tidak menghentikan sejenak pertandingan, mungkin para penonton yang akan menghentikannya. Karena masyarakat Sigli memang sangat menghormati agama, khususnya Islam.
Sigli yang masih termasuk Provinsi Nangroe Aceh Darusalam, memang dikenal memegang teguh syariat Islam. Hampir di setiap waktu salat, masyarakat berusaha menghentikan kegiatannya. Setiap kali azan zuhur, asar, magrib, dan isya berkumandang, toko, rumah makan, SPBU, museum, dan sejumlah pelayanan masyarakat selalu menutup kegiatannya untuk sementara. Kegiatan kembali dilanjutkan sekitar 5 menit setelah azan.
Selain itu, para perempuan muslim juga diwajibkan untuk berbusana muslim. Sehingga sejumlah penonton di dalam stadion pun lebih didominasi perempuan berjilbab. Mungkinkan ini dilakukan di Bandung?
Sumber: Galamedia
By: Fikri

0 comments:
Post a Comment