PERJALANAN kiper berkepala plontos, Markus Harison di Persib Bandung, bila di bandingkan dengan kiprahnya di Arema Indonesia mengalami penurunan performa. Produktivitas kemasukan gol antara di Persib dan Arema mempunyai selisih yang beda jauh.
Markus sendiri menghitung, selama di Arema dia baru kemasukan dua gol dalam delapan pertandingan pada putaran pertama Djarum Liga Super (DLSI) 2009-2010. Sementara itu, sejak mengawali debutnya di Persib, dalam delapan kali mengawal gawang Persib, pemain bernomor punggung 81 itu sudah mengoleksi sembilan kemasukan.
"Ya antara Persib dan Arema ada perbedaanlah. Di Arema, pemain belakangnya ada empat, sedangkan di Persib ada tiga. Dengan formasi tiga di belakang memang agak susah, berbeda ketika saya bekerja sama dengan empat pemain belakang. Tapi itu bukan suatu alasan, saya harus profesional dan harus bisa," katanya seusai latihan di Stadion Persib, Jln. Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa (13/4).
Lelaki 29 tahun itu mengatakan, kebobolan gawangnya diharapkan tidak terulang karena dengan tiga pemain belakang di Persib akan meningkatkan kekuatan dan konsentrasi mereka. "Komunikasi kita sudah berjalan, tetapi ini hanya masalah hilang konsentrasi ketika di menit akhir dan awal, biasanya," ucapnya.
Sementara itu, Pelatih Kiper Persib Anwar Sanusi mengungkapkan, robeknya jaring yang dijaga anak didiknya harus dilihat dulu proses golnya seperti apa. "Sulit juga kalau melihat pertandingan ketika Persib lawan Persijap kemarin," katanya.
Away sapaan Anwar menuturkan, evaluasi proses gol tersebut perlu dilakukan. Bukan hanya ketika Markus eksis di Persib. Sejak Kosin memperkuat Persib pun dirinya selalu menganalisis kenapa gawang Persib harus kebobolan. "Bagi Markus, pada satu titik pertandingan dia berada di atas, seperti lawan Arema dan Persija dia bagus. Rata-rata dia masih dalam performa yang top, kecuali pas lawan PSPS, dia agak kurang. Hal itu mungkin karena faktor konsentrasi. Kalau saya tidak lihat gol yang terjadi, tetapi proses golnya," ujar dia.
Away mengatakan, salah satu faktor Markus kecolongan karena komunikasi dengan pemain belakang. "Memang daerah pertahanan itu kiper, cuma kalau di depan kiper seperti ikut bertahan, ketika gol, kiper jadi kena getahnya. Kita sering ingatkan karena kasusnya seperti itu kuncinya komunikasi dengan pemain belakang," ujar Away.
Nova Arianto, sang kapten tim yang ada di barisan belakang Persib menambahkan, Markus harus beradaptasi dengan formasi 3-5-2 yang diterapkan pelatih selama ini. "Mungkin ini hanya masalah kebiasaan, di Arema dan Timnas yang menggunakan empat pemain belakang," ucap dia.
Sumber: PR
By: BP

0 comments:
Post a Comment