PEMAIN asal Singapura, Shahril Ishak mampu memukau penikmat sepak bola dengan kelincahannya menggocek si kulit bundar. Terbukti, saat pertandingan melawan PSM Makassar di Stadion Siliwangi Bandung, Sabtu (23/10) malam, banyak penonton yang mengelu-elukan namanya.
Ketika bola sudah dalam jangkauan Shahril, pemain lawan sering kesulitan merebutnya. Namun, sebagai pemain sayap, dia paham betul fungsi posisinya lebih utama untuk memberikan umpan kepada striker.
Persib merekrut Shahril dengan rekam jejak yang spektakuler. Di negara asalnya, mantan pemain Home United Singapura ini terbilang jawara. Dua kali menjadi player of the month dan sempat menduduki runner-up top scorer Liga Singapura musim ini.
"Jika saya di sana (Home United-red.), masih tersisa dua pertandingan lagi untuk mengakhiri liga musim ini. Sebelum masuk Persib, saya sudah mengoleksi 17 gol, terpaut satu gol dengan peringkat pertama," kata pria kelahiran 23 Januari 1984 ini.
Tawaran untuk memperkuat Persib ini, sangat menggodanya. Ditambah, rekan karibnya, Baihakki Khaizan, telah lebih dulu merumput di Indonesia.
Menurut pengakuan Shahril, tawaran dari Persib langsung diambilnya. "Tidak ada masalah, kami bicara baik-baik. Lagi pula, saya memang ingin menerima tawaran Persib. Saya ingin menjadi pemain sepak bola internasional. Bukannya tak sedih meninggalkan tim, tetapi teman-teman di klub mendukung saya," ujarnya.
Kapten tim nasional Singapura ini bertekad untuk melebarkan sayap kariernya dengan melintasi negara. Meski begitu, ia mengaku tidak mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia sebelum bergabung dengan Persib.
"Sebelumnya, saya tidak pernah tahu Persib. Namun, saya sudah beberapa kali bertemu para pemain Persib ketika mereka memperkuat Indonesia melawan Singapura beberapa waktu lalu. Seperti Nova, Atep, Eka, atau Isnan. Selebihnya, saya tak tahu kondisi persepakbolaan Indonesia," ujar pria yang telah menikah pada April 2009 itu.
Dalam penilaiannya, body contact sering kali mendominasi permainan sepak bola di Indonesia. Ini yang dilihatnya berbeda dengan Singapura. Meski begitu, ia tak mempermasalahkannya, "Bagus untuk menjadi pengalaman. Jadi, saya tahu karakter permainan di Indonesia," ujarnya.
Selama beberapa bulan tinggal di Kota Bandung, Shahril mengaku belum sempat berkeliling ke banyak tempat wisata. "Baru sekali ke Kampung Gajah. Sisanya paling nyoba tempat makan. Anak-anak sih sukanya makan bebek," ujarnya.
Ia lalu menceritakan makna di balik nomor punggungnya, 17. Ketika ia berusia 19 tahun, kesempatan menjadi pemain Timnas Singapura menghampiri bungsu dari tiga bersaudara itu. "Saat itu pelatih memberi saya kostum nomor 17. Saya kira ini semacam lucky number. Jadi, akan terus dipakai," katanya.
Hal menarik lain dari Shahril yaitu rambutnya yang diwarnai cokelat kemerahan. Oleh karena itu, tak sulit mengenali sosok pemain sayap kanan Persib itu. "Ini fashion saja. Teman di Singapura (klub terdahulu) juga banyak yang begini (mengecat rambut)," katanya seraya tertawa. (Eva Fahas/"PR")***
Sumber: PR
By: BP

0 comments:
Post a Comment