Jovo Cuckovic mendapat tugas cukup berat membawa Persib meraih juara. Tentu saja hal itu tidak mudah, apalagi pada dua partai tandang Persib menuai hasil kurang memuaskan. Melalui akun Facebook Bobotoh yang dikelola desk olah raga Pikiran Rakyat, bobotoh berkesempatan bertanya langsung kepada Jovo.
(Ayo Suwaryo, Subang)
1. Tim Persib ini bertabur bintang, kenapa pada dua laga perdana Persib tidak mampu meraih kemenangan?
Yang menilai pemain bintang adalah Anda. Saya di sini tidak melihatnya seperti itu. Ketika berada di lapangan, saya profesional dan melihat mereka adalah sama. Inilah yang harus dihilangkan, pemain tidak boleh menganggap dirinya "lebih" dari yang lain. Sepak bola adalah permainan kerja sama tim, bukan individu. Semua harus saling bantu dan mengisi kekurangan satu sama lain. Mengenai kekalahan, saya katakan hal itu karena belum terjalinnya kekompakan yang baik di antara pemain. Oleh karena itu, selama ini saya selalu menekankan masalah kekompakan setiap latihan, karena dengan kekompakan tim bisa meraih juara. Bukan masalah pemain bintang.
(Juniardi, Buah Batu)
2. Mr. Jovo, bagaimana Anda menangani ego yang berlebihan dari tiap pemain di tim Persib?
Ya, setiap orang memiliki sikap egois. Saya memahami itu. Saya juga mencoba pahami kultur Asia yang tentunya berbeda dengan Eropa. Jadi dalam membenahi masalah ini, saya melakukannya perlahan-lahan, sedikit demi sedikit. Misalnya, ada kalanya pemain tidak konsentrasi saat latihan dan melakukan kesalahan. Saya katakan, "Oke, tidak apa-apa, coba lebih konsentrasi lagi." Semacam itu saya lakukan.
(Muhammad Ilham, Bandung)
3. Menurut Anda, apakah Persib layak disebut tim yang hebat?
Saya tidak akan menyebutkan apakah Persib tim besar atau tidak. Namun yang jelas, klub besar yang bagus adalah klub yang bermain dengan bagus, juga memiliki perencanaan dan infrastruktur yang baik. Ya, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Namun, yang saya lihat di Indonesia belum ada yang seperti itu. Sekelas tim juara juga tidak punya kriteria itu.
(Ridshasuke, Tasikmalaya)
4. Mr. Jovo, bagaimana cara Anda memotivasi para pemain ketika para pemain down waktu pertandingan?
Pemain yang mengerti sepak bola itu akan mengerti kerja mereka itu harus bagaimana. Apabila mereka tidak mengerti sepak bola, dia pun pasti tidak memiliki motivasi apa pun dalam bertanding. Saya juga tidak ingin terlalu banyak bicara untuk memotivasi pemain. Saya ingin mereka mengerti pekerjaan mereka.
(Dudungridwan, Bandung)
5. Mr. Jovo, benarkah teknik dasar pemain Persib jelek sekali sehingga harus berlatih lagi teknik dasar bermain sepak bola? Kan mereka sudah profesional dan digaji besar?
Pada pertanyaan kali ini saya tidak akan membicarakan mengenai gaji pemain. Sebenarnya tidak hanya Persib, klub lain di Indonesia juga saya lihat mereka masih memiliki kelemahan dalam masalah teknis dasar sepak bola. Hal itu terjadi karena minimnya pembinaan sekolah sepak bola di sini. Hal-hal kecil seperti passing, mereka masih melihat bola dan berpikir sejenak kepada siapa bola diteruskan. Seharusnya hal itu diminimalisasi karena buang-buang waktu saja. Pemain harus sigap menerima bola dan langsung cekatan memberikan bola tersebut pada teman yang posisinya efektif.
(Nurul, Bandung)
6. Jovo kenapa waktu pertandingan lawan Deltras enggak ngasih semangat dan instruksi ke pemain kayak Darko? Mungkin dengan melakukan itu pemain akan lebih termotivasi untuk menang dan tidak melakukan kesalahan yang fatal.
Jangan bandingkan saya dengan Daniel karena kami berbeda. Saya pribadi tidak begitu banyak bicara. Saya cukup memberikan pengarahan di lima menit awal pertandingan. Setelah itu saya akan duduk dan melihat jalannya pertandingan, mencatat kesalahan-kesalahan yang dilakukan pemain untuk kemudian menganalisisnya. Semua itu akan digunakan sebagai evaluasi nanti saat latihan. Seperti itu metode yang saya gunakan.
(Ki Agung, Bandung)
7. Mengapa Anda tertarik untuk melatih tim Persib? Apakah Anda tidak takut kejadian yang menimpa rekan Anda terulang pada Anda?
Saya adalah pelatih profesional. Saya menekuni kerja seperti ini sudah lama. Saya siap bekerja. Saya ingin menjadikan tim menjadi bagus dan juara. Persib sudah lama tidak juara. Mengenai pemain suka atau tidak dengan saya, yang saya lakukan adalah bersikap profesional. Tugas saya adalah melatih dan menyiapkan tim menjadi yang terbaik. Saya kira pemain juga harus bersikap seperti itu, profesional dengan pekerjaannya. Kita sama-sama bekerja sesuai dengan fungsinya.***
Sumber: PR
By: BP

0 comments:
Post a Comment