TERPILIHNYA Jovo Cuckovic sebagai pengganti Daniel Darko Janackovic, setidaknya menjadi jalan tengah dari permasalahan yang dialami Persib ketika akan memulai kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) 2010-2011 ini. Jovo pun tetap menerima ultimatum dari Manajemen Persib seperti yang ditujukan terhadap Janackovic. Apabila Jovo gagal dalam tiga kali pertandingan berturut-turut, ia harus rela lengser dari jabatan sebagai pelatih kepala Persib.
Perjalanan Jovo menjadi pelatih memang serba kebetulan. Persib tidak mencari pelatih dengan intens seperti dulu. Semula lelaki 61 tahun itu merupakan teman duet Janackovic dalam meracik tim. Namun, nasib kini menggariskan dirinya sebagai pelatih kepala Persib karena dinilai oleh para pemain lebih kompromis dibandingkan dengan Janackovic.
Namun, perlu diingat, Jovo sebetulnya memiliki karakter yang sama dengan Janackovic. Pelatih tersebut telah bertahun-tahun mendampingi dan bekerja sama dengan pelatih asal Prancis itu, termasuk ketika mereka menangani tim di Aljazair. Jovo dan Janackovic tak kenal kompromi di lapangan. Ketika pemain melakukan kesalahan, ia tak segan langsung menegur dan memberi peringatan kepada pemain tersebut di hadapan pemain lain. Ia pelatih keras dan disiplin, seperti gaya pelatih Eropa Timur pada umumnya yang mengutamakan speed and power.
Dulu timnas pernah dilatih oleh duo Rusia (Uni Soviet) Polisin dan Urin. Mereka berdua menerapkan sistem latihan gaya Eropa Timur. Jaya Hartono (Pelatih Persik Kediri sekarang) dan Fachry Husaini (Pelatih Bontang FC saat ini), mangkir dari pemusatan latihan di Pusdikpom. Mereka mengaku tidak kuat. Namun, apa hasilnya, ketika didikan keras tersebut diterapkan kepada pemain timnas saat itu? Sepak bola Indonesia bisa menjuarai SEA Games 1991 di Manila.
Apabila didikan keras yang diterapkan kepada pemain Persib seperti saat ini, terbuka untuk merebut kembali titel juara, seperti lima belas tahun silam. Setelah Jovo terpilih atas masukan pemain, para pemain harus siap dengan pola didikan yang akan ditetapakan Jovo.
Jovo, dalam akun pribadi jejaring sosial miliknya mengakui akan tetap menerapkan disiplin seperti Janackovic, tetapi dengan cara yang berbeda. Ia menulis status pada Jumat (24/9) kemarin yang menyatakan, Daniel really hard off the field to form a mental player, usually if a player is fit mentally, Daniel hopes it will act like parents to their children off the field, but all had happened and when I finally became a substitute Daniel then I will not lose discipline for players, just maybe a little different way.
(Daniel telah berkerja keras membangun mental pemain, apabila pemain dalam kondisi fit, Daniel selalu memperlakukan pemain seperti orang tua memperlakukan anaknya di lapangan, tetapi semua ini (kisruh) terjadi dan pada akhirnya saya menggantikan Daniel dan tidak akan membiarkan pemain untuk tidak disiplin, mungkin saya akan menerapkan kedisiplinan dengan cara yang berbeda).
Isnan Ali, salah seorang pemain pilihan Janackovic mengakui siapa pun pelatihnya, dia siap untuk menjalankan instruksinya. Di matanya, Jovo merupakan pelatih yang sangat disiplin. "Dia selalu memberikan arahan kepada pemain di lapangan. Ia tidak ingin pemain selalu berbuat salah. Itu sangat wajar bagi seorang pelatih. Mereka mempunyai tujuan sama yaitu ingin membawa timnya juara. Cuma caranya beda," kata mantan pilar timnas itu.
Ketika Jovo bersama Janackovic sebagai asisten, ia tidak menerapkan banyak aturan terhadap pemain. "Kalau di luar lapangan, dia banyak diam, paling di lapangan memang lebih aktif. Ya hal itu biasa saja. Mudah-mudahan ke depan enggak ada masalah," katanya.
Sementara itu, Eka mengaku tidak keberatan dilatih siapa pun, termasuk Janackovic. Eka mengharapkan, pelatih nanti bisa bekerja sama dengan pemain dan membuat tim solid. (Novianti Nurulliah/"PR")***
Sumber: PR
By: BP

0 comments:
Post a Comment