BANDUNG, (PR).-
Hasil akhir Persib dalam pertandingan kedua melawan Deltras Sidoarjo dinilai semakin menurun dibandingkan ketika menghadapi Persela Lamongan. Hal tersebut disebabkan oleh lemahnya motivasi pemain dalam bertanding. Padahal melihat lawan yang dihadapi, kualitas tim Persib lebih unggul.
Mantan pemain Persib era 1990-an, Nandang Kurnaedi menuturkan hal itu ketika dihubungi "PR", Minggu (3/10). Menurut dia, kekalahan yang dialami Persib didominasi permainan yang tidak didukung motivasi yang tinggi. Berbeda dengan Deltras yang bermain penuh motivasi. "Intinya, daya juang Persib masih lemah," tutur legenda Persib itu.
Mantan pemain yang kini merambah karier sebagai pelatih sekolah sepak bola (SSB) tersebut mengatakan, meski kurang memuaskan dalam dua laga perdana tersebut, bukan berarti hal itu dapat ditolerir. "Apabila masih ditoleransi, bagaimana dengan 32 sisa pertandingan yang yang harus dijalani," katanya pelatih SSB Propelat dan Swasco itu.
Ia mengaku khawatir apabila daya juang pemain tidak mengalami peningkatan, akan memengaruhi pada laga selanjutnya. "Kalau tidak diperbaiki dari sekarang mau kapan lagi? Takutnya terulang kembali," ucapnya.
Menurut dia, hal ini menjadi karakter khas Persib dalam beberapa musim ke belakang. Persib sepertinya kehilangan motivasi untuk menang. Padahal setiap tahunnya ditargetkan untuk jadi juara.
"Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran pemain? Kontrak sudah selesai. Semestinya pemain yang sudah teken kontrak itu otomatis menjalankan apa yang diinginkan pengurus," ucapnya.
Nandang mengatakan, setelah menandatangani kontrak yang paling penting pemain Persib harus bisa bekerja sama, bertanggung jawab mempertaruhkan nama besar Persib.
Ketika ditanya mengenai skema yang diterapkan, Nandang mengatakan, untuk pemain sekelas Persib hal tersebut semestinya tidak harus menjadi kendala. Apabila pemain tersebut profesional, maka mau dimainkan dalam pola apapun pasti langsung jalan.
Lebih jauh Nandang mengatakan, dari hasil pertandingan Persib lawan Deltras Sidoarjo mengalami penurunan performa maupun hasil akhir dibandingkan dengan ketika lawan Persela Lamongan. Dari segi hasil semakin parah, dari segi penampilan juga lebih buruk.
"Saya menyaksikan pemain seperti bermain tanpa pola. Seperti biasa, kerja sama tim kurang apalagi dengan komunikasi pun kurang lancar," katanya.
Nandang menilai, ketika melawan Deltras gol kedua, ketiga dan keempat milik Deltras seharusnya tidak terjadi pada gawang yang dijaga Markus, apabila pemain belakang itu kompak. Akan tetapi saat itu Nova Arianto dan kawan-kawan masih terlihat kurang komunikasi. Selain itu, mereka nampak tidak memberdayakan lini tengah. Bola-bola langsung dilambungkan langsung ke depan.
"Dari lini belakang hingga depan memang kurang komunikasinya. Adanya pemain tengah kan untuk berkreasi sebagai penyeimbang lapangan," katanya.
Ia menambahkan, hal itu merupakan pekerjaan rumah bagi pelatih Jovo Cuckovic. Pelatih asal Serbia itu harus segera memperbaiki kelemahan tim, komunikasi dan jalinan kerja sama antarpemain untuk pertandingan ke depan. (A-183)***
Sumber: PR
By: BP
0 comments:
Post a Comment