25 October 2012
VIVAbola - Lama tak menghiasi hingar bingar sepak
bola nasional, nama Bandung Raya kini mencuat lagi. Juara Liga Indonesia
musim kompetisi 1995/96 itu akan mewarnai ketatnya kompetisi kasta
tertinggi sepak bola tanah air, Liga Super Indonesia (ISL) 2012-13.
Kesempatan
ini didapat setelah Bandung Raya memutuskan membeli saham Pelita Jaya
yang baru saja dilepas oleh PT Pelita Jaya Cronous. Perusahaan yang
bernaung di bawah grup Bakrie itu kemudian mengakuisisi kepemilikan klub
asal Jawa Timur, Arema Malang.
Bandung Raya merupakan klub yang
sempat mengakar di kalangan pecinta sepak bola asal Bandung. Di era
1990-an, tim ini bahkan mampu mengancam popularitas saudara tuanya,
Persib Bandung.
Meski demikian, di era Galatama, Bandung Raya
bukanlah klub favorit yang mampu mencuri perhatian publik Bandung.
Sepanjang kiprahnya pada kompetisi ini, Bandung Raya lebih sering
menelan kekalahan. Bahkan boleh dikatakan bila saat itu, Galatama
menerapkan sistem promosi-degradasi, tim ini dipastikan sudah terlempar
ke luar lintasan.
Namun nasib klub yang didirikan Yayasan
Bandung Raya pada tahun 1987 itu, berubah drastis seiring dengan
digulirkannya kompetisi model baru dengan melebur kompetisi Galatama dan
Perserikatan ke dalam satu wadah bernama Liga Indonesia pada tahun
1994.
Di Ligina I, Bandung Raya diarsiteki pelatih Nandar
Iskandar. Awalnya, tim ini juga dipandang sebelah mata karena dihuni
oleh pemain-pemain veteran seperti Peri Sandria, Adjat Sudrajat, Heri
Kiswanto, serta penjaga gawang Hermansyah. Namun perlahan tapi pasti,
tim tua Bandung Raya mulai mencuri perhatian, terlebih setelah masuknya
striker asal Montenegro, Dejan Glusevic.
Sihir Dejan mampu membuat publik sepak bola Bandung mulai menaruh
perhatian kepada Bandung Raya. Kala itu Bandung Raya bermain bukan
sekadar meraih skor kemenangan juga mampu menyajikan sepak bola yang
sangat menghibur. Tak aneh bila, suporter pun mulai berdatangan.
Rata-rata berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
Di Liga
Indonesia pertama, Bandung Raya terhenti di babak 8 besar. Tim asal Kota
Kembang ini kalah bersaing dengan Barito Putra dan PKT Kalimantan Timur
(kini menjadi Bontang FC). Kegagalan ini pun menjadi pelajaran bagi
Bandung Raya menghadapi musim berikutnya.
Pada musim 1995/96,
Bandung Raya berganti pelatih menjadi Henk Wullems. Di bawah kendali
pelatih asal Belanda itu, Bandung Raya tidak menghilangkan sepak bola
indah dan berhasil lolos ke final.
Di babak semifinak, Bandung
Raya berhasil menyingkirkan Mitra Surabaya. Sedangkan di final, pasukan
Henk Wullems kembali menekuk tim PSM Makassar dengan skor 2-0. Dalam dua
laga ini, Bandung Raya tidak diperkuat Dejan Glusevic yang absen karena
larangan dua laga usai menerima kartu merah di laga terakhir babak 12
besar.
Musim berikutnya, Bandung Raya kembali mampu menembus
partai puncak. Saat itu, Bandung Raya sudah tidak diperkuat oleh Dejan
Glusevic yang memilih kembali ke Pelita Jaya. Kursi pelatih juga sudah
dihuni pelatih baru, Albert Fapie. Sayang, di babak final, Bandung Raya
harus menelan kekalahan 1-3 dari Persebaya Surabaya.
Masalah
finansial akhirnya memaksa Bandung Raya mundur dari Ligina. Meski begitu
hal itu tidak otomatis membuat Bandung Raya kehilangan hak. Keputusan
tersebut membuat Bandung Raya terjun bebas ke Divisi III atau tingkatan
kompetisi paling bawah.
Setelah 15 tahun nyaris tak terdengar,
nama Bandung Raya kini kembali muncul ke permukaan. Itu setelah, tim ini
memutuskan membeli saham Pelita Jaya dan berhak tampil di pentas ISL
2012-13.
"Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga keinginan
kembali di kompetisi tertinggi. Kami harapkan Bandung Raya bisa dan
masih diterima masyarakat Bandung serta Jabar. Kami sudah merindukan hal
ini sejak lama dan mudah-mudahan bisa meraih prestasi tertinggi seperti
yang kami tunjukkan dulu,” ujar Komisaris Yayasan Bandung Raya, Tri
Goestoro kepada wartawan, Kamis, 25 Oktober 2012.
Tri selama
ini memang sangat identik dengan Bandung Raya. Tri yang beberapa waktu
lalu memutuskan mundur dari jabatannya sebagai Sekjen PSSI merupakan
sosok yang dikenal getol dan selalu berusaha menjaga Bandung Raya hingga
akhirnya kembali ‘dibangkitkan’.
Dalam sejarah perjalanan,
Bandung Raya yang didirkan 17 Juni 1987, memiliki sejumlah cerita
menarik di luar lapangan. Salah satunya adalah keterlibatan lady rocker
kenamaan di akhir 1980-an dan 1990-an, Nike Ardila (almarhumah). Nike
yang meninggal akibat kecelakaan mobil merupakan donatur di Yayasan
Bandung Raya.
Sumber: VivaBola
By: Fikri
0 comments:
Post a Comment