BANDUNG, (PRLM).- Sejak kepemilikan Persib Bandung berpindah tangan dari Pemerintah Kota Bandung dan perwakilan seluruh Persatuan Sepakbola (PS) kepada pihak konsorsium PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB) pada 2009 silam, secara materi, “Maung Bandung” tidak pernah menuai keuntungan. Kendati demikian, kerugian pendapatan tersebut setiap tahun eskalasinya berangsur menurun.
“Sejak tiga tahun lalu, manajemen belum mendapatkan keuntungan karena biaya operasional tim yang sangat besar. Pada musim 2011-2012 saja kami masih rugi sekitar Rp 14 miliar dari total pengeluaran semusim yang menginjak hingga Rp 29 miliar,” ujar Manajer Persib Bandung, Umuh Muchtar, saat ditemui di Bandung.
Umuh mengakui, setiap tahunnya pemasukan PT PBB yang di antaranya datang dari sponsorsip, penjualan tiket dan lain-lain belum bisa menutupi beban pengeluaran perusahaan seperti harus memberikan gaji pemain, bonus, dan lain sebagainya. Jadi, lanjut Umuh, untuk menutupi kekurangan itu semua ditanggung oleh konsorsium yang memang tidak mau membebani para pemain.
“Manajemen kita tidak pernah terlambat membayar gaji dan bonus pemain. Meskipun belum mendapat keuntungan, manajemen berusaha tetap menjaga komitmen dengan hak para pemain agar mereka bisa tampil lebih baik di setiap musimnya,” ucapnya.
Lebih lanjut Umuh menegaskan, pada tahun pertama “Maung Bandung” resmi menjadi milik PT PBB, konsorsium harus menutupi kekurangan hingga Rp 18 miliar, sedangkan pada 2010 sebanyak Rp 16 miliar. Oleh karena itu, ujar Umuh, pertumbuhannya semakin membaik karena jumlah kerugian terus menurun.
“Salah satu penyebab kerugian ialah adanya dualisme liga yang hingga saat ini belum juga selesai. Hal itu berpengaruh terhadap investasi yang datang dari luar. Kebanyakan investor yang sudah mendekati sepakat untuk mensponsori Persib jadi mundur lagi karena dualisme liga ini. Itu kan sangat merugikan,” ujar Umuh menjelaskan.Sumber: PR
By: Fikri
0 comments:
Post a Comment