Sejumlah bobotoh yang sempat mengikuti Persib sejak era Perserikatan, tentu mengamini hal ini. Dibandingkan duel melawan Persija Jakarta (yang kini sering disebut sebagai musuh abadi), PSMS Medan dianggap lebih memiliki daya tarik tersendiri.
Perseteruan Persib dengan PSMS bukan berawal dari luar lapangan, tetapi benar-benar terjadi di lapangan hijau. Perseteruan keduanya lebih pada kualitas permainan dan prestasi.
Di era Perserikatan, mimpi Persib untuk menjadi juara sempat digagalkan tim "Ayam Kinantan", julukan PSMS Medan. Bukan hanya sekali, tetapi dua kali. Hal itulah yang membuat Persib menyimpan "dendam" terhadap PSMS.
Final pertama yaitu di tahun 1983. Pada final yang digelar 10 November di Stadion Utama Senayan tersebut, Persib harus takluk melalui adu penalti 2-3 (0-0) (0-0). Saat itu, Persib yang baru promosi kembali ke Kompetisi Divisi Utama Perserikatan 1983, setelah terlempar ke Divisi pada tahun 1978, langsung unjuk gigi. Giantoro dkk. lolos ke final untuk menantang PSMS Medan di Stadion Utama Senayan Jakarta.
Dipimpin kapten tim Giantoro, Persib menahan imbang 0-0 dalam waktu normal dan perpanjangan waktu. Pertandingan harus diakhiri dengan adu penalti. Sayang, Persib gagal menjadi kampiun karena hanya dua eksekutornya yang mampu menjebol gawang PSMS, yang dikawal Ponirin Meka, yaitu Bambang Sukowiyono dan Wawan Karnawan. Tiga penendang yang gagal adalah Giantoro, Adjat Sudrajat, dan Wolter Sulu. Sementara gawang Persib yang dijaga Sobur bobol tiga kali. Adjat tetap dinobatkan sebagai pemain terbaik dan pencetak gol tersubur dengan 8 gol. Komposisi pemain Persib saat itu adalah Sobur (kiper), Suryamin/ Adjid Hermawan, Dede Iskandar, Robby Darwis, Giantoro (c), Encas Tonif/ Kosasih A., Bambang Sukowiyono, Wolter Sulu, Adjat Sudrajat, Adeng Hudaya, dan Wawan Karnawan.
Belum terpecahkan
Final sejanjutnya bahkan lebih fenomenal. Di tahun 1985, laga final Persib vs PSMS disaksikan langsung sekitar 140.000 penonton. Padahal saat itu, Stadion Utama Senayan hanya berkapasitas 120.00 penonton.
Jumlah penonton yang meluber hingga pinggir lapangan tersebut masih belum terpecahkan hingga saat ini.
Sayang pada final yang digelar 23 Februari tersebut, lagi-lagi Persib ditaklukkan oleh PSMS, 3-4 melalui drama adu penalti. Dalam waktu normal, M. Sidik (menit 14 dan 35) membawa PSMS unggul 2-0 lebih dulu, sebelum disamakan Iwan Sunarya (menit 65) melalui tendangan penalti dan Adjat Sudradjat (menit 75).
Sementara dalam lima kali tendangan penalti yang dilakukan setiap tim, PSMS berhasil memperoleh dua angka melalui Musimin dan Mameh Sudiono, sedangkan Persib hanya memperoleh satu angka melalui Adjat Sudradjat.
Tetapi gelar juara itu merupakan gelar juara terakhir bagi PSMS. Sedangkan bagi Persib hal itu menjadi tonggak. Karena setelah itu, Persib berhasil menjadi juara Perserikatan tiga kali, yaitu di tahun 1986, 1990, dan 1994. Bahkan Persib menjadi juara Liga Indonesia I. Sedangkan PSMS naik turun di kompetisi kasta tertinggi Indonesia ini.
Kendati harus diingat, sarat intrik, gengsi, dan fanatisme, bukan berarti harus berujung anarkis. Pertandingan harus tetap bisa dinikmati, seperti yang telah terjadi pada laga kedua tim sebelumnya.
Sumber: Galamedia
By: BP
0 comments:
Post a Comment