LSI Terancam Terhenti di Tengah Jalan

21 December 2011 LODAYA,(GM)-
Liga Super Indonesia (LSI) 2011-2012 terancam terhenti di tengah jalan. Hal ini merupakan buntut wacana digelarnya Kongres Luar Biasa yang diusung Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI).

Hal itu diakui Ketua KPSI, Tony Aprilani di Gedung Pengprov Jabar, Selasa (20/12).

"Keberlangsungan kompetisi bergantung pada anggota PSSI. Jika pada KLB para anggota menghendaki dihentikan maka kompetisi akan dihentikan. Sebaliknya, jika anggota menghendaki tetap terus berjalan, maka kompetisi akan terus digulirkan," kata Tony.

Tony mengungkapkan, berdasarkan hasil Rapat Akbar Sepak Bola Nasional (RASN) selama lebih dari dua jam, Forum Pengprov PSSI (FPP) dan 452 anggota PSSI sepakat untuk menjalankan Kongres Luar Biasa (KLB). Dalam KLB yang paling lambat digelar 30 Maret 2012 mendatang, akan diagendakan pemilihan ketum, waketum, dan anggota Komite Eksekutif PSSI.

Setelah itu, lanjut Tony, juga akan dibahas agenda PSSI selanjutnya termasuk nasib Liga Super Indonesia (LSI) dan Liga Prima Indonesia (LPI).

"Para klub anggota PSSI bisa menetukan sikapnya. Liga akan diikuti 18 klub atau 24 klub. Atau LSI tetap dilanjutkan atau dihentikan. Itu bergantung pada anggota," jelas Tony yang juga Ketua Umum Pengprov PSSI Jabar.

Namun Tony menegaskan, banyak yang harus dibenahi dalam penyelenggaraan kompetisi ke depan. Termasuk membenahi posisi klub-klub pada level sesungguhnya. "Beberapa klub yang tidak pantas berada di level I, harus kembali ke level semestinya. Hal inilah yang membuat kekacauan penyelenggaraan kompetisi," tegas Tony.

Farhan mundur

Sementara itu, Direktur PT Persib Bandung Bermartabat, Muhammad Farhan menyatakan tidak bersedia menjadi anggota KPSI. Menurut Farhan, menjadi anggota KPSI merupakan sebuah kehormatan baginya. Namun karena tugas utamanya di Persib, terpaksa ditolaknya. "Sebuah kehormatan yang harus saya tolak. Karena tugas utama saya sekarang adalah memenuhi target-target PT PBB sesuai amanah pimpinan dan bobotoh," tulis Farhan di akun Twitternya.

"Tugas di Persib yang belum selesai yaitu menangani banding sanksi Komdis yang tidak adil dan menjaga usaha Pesib yang berkelanjutan sejak 2009," lanjutnya.

Menanggapi hal ini, Tony mengatakan, sebelum menunjuk Farhan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Komisariat PT PBB, Zainury Hasyim. Zainury mendukung upaya yang dilakukan KPSI. Namun karena alasan usia, Zainury meminta untuk menunjuk orang lain yang lebih muda.

"Ini sebenarnya keuntungan bagi Persib. Karena selain Persib, klub besar lainnya yang diminta untuk menjadi anggota yaitu Doddy Alex Noerdin (Sriwijaya FC)," kata Tony.

Selain Farhan, anggota KPSI ainnya yang mengundurkan diri yaitu

Sumaryoto (Indonesia Football Watch). Dengan demikian, anggota KPSI kini terhanya terdiri dari La Nyalla M Mattalitti (Exco), Roberto Rouw (Exco), Erwin Dwi Budiawan (Exco), Benhur Tommy Mano (Persipura Jayapura), Doddy Alex Noerdin (Sriwijaya FC), FX Hadi Rudyatmo (Persis Solo), Hardi (Pengprov DKI Jakarta) dan Beny Dollo (mantan pelatih tim nasional).

Komite Etik PSSI

Kisruh di tubuh PSSI masih terus bergulir. Kini, PSSI meminta La Nyala Mattaliti, Erwin Budiawan, Roberto Rouw, dan Toni Aprilani meminta maaf kepada mereka.

Keempat anggota Komite Eksekutif PSSI tersebut diklaim PSSI telah melakukan pelanggaran, yakni mengirim surat kepada FIFA dan AFC tanpa berkoordinasi dulu dengan anggota Komite Eksekutif lainnya. Surat tersebut berisi laporan atas membengkaknya jumlah peserta Liga Indonesia menjadi 24 tim sebelum ini.

Dalam pertemuan di Hotel Bidakara Jakarta, Selasa (20/12), Komite Etik PSSI kemudian memberikan pernyataan sebagai berikut.

Menjatuhkan sanksi terhadap terlapor, Erwin D. Budiawan, Roberto, Toni, masing-masing harus menyampaikan maaf secara tertulis kepada Ketua Umum dan Komite Eksekutif PSSI, AFC, dan FIFA.

Menyatakan janji menghentikan semua tindakan pelanggaran etik yang diuraikan dalam Bagian Pertimbangan Komisi Etik PSSI dan menghentikan segala kegiatan lanjutnya dan dampaknya.

Pelaksanaan sanksi yang disebut di atas harus diterima Ketum PSSI dan Komite Eksekutif PSSI di kantor PSSI dan dikirimkan pos tercatat kepada AFC dan FIFA dalam 2 x 24 jam terhitung sejak dibaca keputusan ini.

Komite Etik PSSI menyebut, jika permintaan maaf itu tidak dilakukan maka akan ada pemberhentian permanen dari Komite Eksekutif PSSI maupun kegiatan persepakbolaan di Indonesia bagi keempatnya.

"Kalau tidak ada permintaan maaf berarti mereka tidak mempunyai itikad baik. Dengan terpaksa kita berhentikan," kata Todung Mulya Lubis, Ketua Komite Etik PSSI.

"Kami sudah ikhtiar untuk menyelamatkan PSSI. Saya kira FIFA dan AFC mengharapkan penyelesaian yang apik. Dan saya kira pelanggaran ini sudah final," lanjut Todung.

Sementara itu, La Nyala yang dimintai tanggapan menyatakan dirinya tidak takut dengan ancaman sanksi tersebut. Ia pun siap untuk balik melawan.

"Saya tidak akan memberikan klarifikasi. Hukum saja. Tidak apa-apa. Toh, ada badan yang akan menganulir. Saya justru senang dan akan ada perlawanan. Saya akan semua buka borok Ketum, Limbong, dan Todung. Justru mereka yang akan berhadapan dengan 58 voter yang memilih saya," ujarnya saat dihubungi detiksport lewat telepon.

Sumber: Galamedia
By: BP

0 comments:

Post a Comment

 
 
 
 
Copyright © Persib Online
Powered by Blogger