11 May 2011
LIGA Super Indonesia (LSI) 2010/2011 sebentar lagi berakhir. Publik sepak bola Bandung sudah tahu, meski masih menyisakan tiga laga lagi, Persib dipastikan gagal mewujudkan impiannya. Jangankan trofi juara, target revisi berada di peringkat 5 Besar pun hampir mustahil bisa dicapai.
Terlepas dari persoalan internal yang melanda manajemen klub sejak awal musim, kegagalan Persib kali ini merupakan ulangan kesalahan yang terjadi dalam empat musim terakhir. Apa itu?
"Setiap musim, Persib selalu mencanangkan target juara. Karena fokus memburu gelar juara, setiap musim Persib melakukan langkah instan dengan mendatangkan pemain jadi. Meski pemain yang didatangkan punya kualitas, kekompakan dan keutuhan tim sulit terbentuk karena setiap tahun pemain datang dan pergi. Di sisi lain, program pembinaan pemain untuk regenerasi pun terlupakan," papar asisten pelatih Persib, Robby Darwis.
Analissi Robby tentu saja tidak asal cuap. Sebab, mantan kapten Persib ini menjadi saksi perjalanan tim yang tetap dibanggakan bobotohnya ini dalam empat musim terakhir.
"Juara tak bisa diraih dengan cara instan. Dulu, beberapa kali gelar juara yang kami persembahkan untuk Persib tidak ujug-ujug diraih begitu saja. Kami dibina secara spartan lebih dari lima tahun," tutur satu-satunya pemain yang menjadi bagian kekuatan Persib saat menjuarai Kompetisi Perserikatan 1986, 1989/1990, 1993/1994, dan LI I/1994-1995 ini.
Berdasarkan catatan "GM", dalam empat musim terakhir, tepatnya sejak LI XIII/2007, Persib selalu jor-joran mendatangkan pemain asing maupun nasional yang berbanderol tinggi. Langkah ini dilakukan manajemen tim karena asumsi gelar juara itu hanya bisa diraih oleh pemain-pemain berkualitas nomor satu yang tentu saja harganya mahal. Karena itu tidak mengherankan, jika di setiap musimnya, Persib bisa menghabiskan dana antara Rp 20 miliar - Rp 30 miliar.
Hasilnya? Semua orang sudah tahu jawabannya: gagal dan gagal lagi. "Semua kegagalan ini terjadi karena Persib sudah melupakan jati dirinya sebagai tim yang selalu mengandalkan pemain binaannya sendiri. Sayang, padahal potensi dan talenta pemain yang ada di sekitar kita pun tidak kalah dengan pemain-pemain yang didatangkan Persib selama ini," timpal legenda hidup Persib lainnya, Adjat Sudrajat.
Momentum yang tepat
Apa yang diungkapkan Robby dan Adjat sepertinya harus segera menjadi bahan pemikiran para petinggi PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB). "Setiap tahun, Persib mendatangkan pemain asing dan nasional yang harganya mahal. Tapi lihat, hasilnya tetap sama; gagal. Karena itu, sudah saatnya bagi Persib untuk kembali mengutamakan pemain-pemain hasil pembinaan secara berkesinambungan," tambah Adjat.
Robby dan Adjat boleh jadi benar. Tapi, yang jadi persoalan, selama ini beberapa petinggi PT PBB berasumsi kalau program pembinaan itu merupakan tugas Pengcab PSSI Kota Bandung. Bukti paling sahih, dalam dua penyelenggaraan LSI terakhir, PT PBB selalu menyerahkan penyiapan dan pengelolaan tim Persib U-21 kepada Pengcab PSSI Kota Bandung.
Bukti lainnya, sejak didirikan, dalam struktur perusahaan PT PBB tidak pernah ada jabatan Direktur Teknik yang merancang berbagai program penyiapan tim, dari mulai pemanduan bakat (talent scouting), youth development (pengembangan pembinaan pemain muda) hingga pengadaan kamp khusus untuk peningkatan kualitas pemainnya, seperti layaknya yang dilakukan klub-klub profesional di negeri yang sepak bolanya sudah maju.
Mengutip ucapan Direktur Eksekutif PT LI, Joko Driyono dalam acara workshop media bersama wartawan peliput LSI di Bandung dua tahun silam, sudah saatnya Persib mengembalikan jati dirinya sebagai tim yang berjaya dengan pemain binaannya sendiri. "Persib jangan bangga bisa mendatangkan pemain berkualitas dengan harga selangit. Tapi, Persib harus bangga menciptakan bintang baru dari hasil pembinaannya sendiri," ujar Joko ketika itu. (endan suhendra/"GM")**
Sumber: Galamedia
By: BP
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comments:
Sah-sah saja menggunakan pemain manapun asal ada hasil nyata, dan sebagus bagusnya pemain tetap saja strategi Pelatih yang juga sangat menentukan team itu akan bagus dan juara.
PERSIB itu team besar tapi jika pelatihnya saja tidak punya formasi baku dan tidak modern ya bukti nyata lagi PERSIB jauh dari harapan jangankan juara,the big five aja kelaut.Contoh Data dan bukti papan atas the big five, team yang semua menggunakan formasi 4 back ditambah data PERSIB yang selalu menggunakan formasi back 3 (3-5-2) kebobolan/kemasukan bola kegawang sangat banyak untuk sekelas team PERSIB apakah belum cukup juga data itu untuk mengganti formasi 3 back dengan 4 back, jika belum cari saja pelatih yang mau menerapkan standar baku formasi 4 back, gitu aja kok cepot!!! biar data lagi nanti yang bicara.
Post a Comment