Lengser Lah Dengan Legowo

23 March 2011
Sebuah film yang berjudul “Remember The Titans” mengingatkan penulis atas makna menerima perbedaan. Film ini bercerita tentang tim football SMA di Virginia tahun 1970-an, di mana football adalah sesuatu yang sangat penting bagi warganya dan perbedaan warna kulit sedang menjadi masalah besar bagi mereka.

Alkisah, Football the Titans dari T.C Williams High school adalah tim yang terpandang bahkan pelatihnya masuk nominasi hall of fame di sana. Sebelumnya tim Football The Titans ini semua pemain dan pelatihnya adalah orang kulit putih namun suatu kejadian membuat mereka harus menerima pelatih dan pemain lainnya yg berkulit hitam dalam satu tim mereka.

Mereka pun harus ikut camp bareng satu kamar, latihan, makan bersama antara kulit hitam dan kulit putih, mereka dipaksa dan dibiasakan untuk berbaur dan bersosialisasi. Sampai akhirnya mereka bisa menerima satu sama lain, berhasil menang di Kejuaraan Football Nasional dan berhasil menerima perbedaan ras yang menjadi permasalahan utama mereka.

Penulis memberikan contoh di atas sebagai intro untuk mengawali perbedaan pandangan internal Persib Bandung. Manajer Persib Umuh Muchtar yang mengakui klub sepakbola sebagai alat perjuangan, justru terkesan menolak ajakan berdamai pihak PT Persib Bandung Bermartabat (PT. PBB) soal urusan jabatan. Sekali lagi, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap sosok Umuh yang juga bobotoh Maung Bandung yang perlu diberikan apresiasi.

Bukan untuk pertama kali namun untuk kesekian kalinya, media mengabarkan “curhat” sang Manajer kepada publik. Perlu diketahui, curhat di media saat ini bukanlah era-nya Teori Inokulasi atau Jarum Suntik (Mc. Gure) yang masih ampuh kala itu dalam mengasumsikan individu/kelompok yang lemah terhadap pemahaman informasi berupa persepsi akan semakin mudah dipengaruhi.

Informasi atau persepsi untuk menghindarkan individu terpengaruhi atau sebaliknya, menangkal pengaruh sudah tidak lazim. Maka, cara demikian tidaklah etis menurut pendapat penulis. Ada hal yang seharusnya dilakukan sebagai seorang Manajer untuk menorehkan prestasi pada klubnya.

Meski posisinya diganti oleh Glen Sagita Per 25 Mei 2011 nanti, Dirut dan Manajer Persib tetap akan memotivasi pemain agar maksimal di sisa laga ISL. Dengan berpikir jernih bahwa posisi Manajer yang diemban nanti agar lebih fokus menjadi Manajer hingga mampu membuktikan membawa kemajuan bagi tim. Jika boleh dicontohkan, Persib sudah bisa berkonsentrasi ke Piala Indonesia 2011 disaat peluang menuju tahta juara Indonesia Super League (ISL) 2010/2011 sudah tidak memungkinkan sekarang ini.

Klub profesional sekelas Persib banyak tantangannya. Dengan prestasi yang kian melorot, bukan tidak mungkin para pemodal atau pihak sponsor lari meninggalkan Persib. Untuk itu dibutuhkan kesamaan visi agar roda bisnis Persib seimbang dengan prestasi yang diraih. Ingat, neraca Persib itu masih timpang, kawan!

Dalam situasi sekarang ini, jangan melihat dari satu sisi saja. Dengan APBD jelas dilarang pemerintah. Kedatangan investor asing juga bukan berarti dilabeli kuasa asing. Di era industri sekarang ini, dimana lagi tidak ditemukan investor dari negeri asing? Inilah wajah sepak bola global kontemporer yang sudah diokupasi kapitalis, pragmatisme, dan kerap diwarnai kekerasan baik di dalam dan luar lapangan .

Kepada wartawan saat ditanya soal kepemilikan PT PBB, Selasa (22/3) Umuh menerangkan, selama ini saham Persib dikuasai pihak asing di luar Bandung. "Yang saya tahu selama ini 70 persen kepemilikan saham itu dipegang pak Glen (Sagita) ternyata tidak, ada pihak lain di belakangnya. Saya sungguh kaget," tegas kala itu. Penguasaan saham Persib sebesar 70 persen, dan sisanya 30 persen itu hanya dimiliki oleh dirinya serta tiga tokoh masyarakat Bandung lainnya.

Namun di posisi lain, penulis melihat belakangan ini banyak kejadian yang dialami Persib. Mulai dari tertatihnya bisnis Persib hingga minimnya prestasi yang kian membuat kedua hal yang sangat berkesinambungan ini tidak dapat dipisahkan. Dengan financial yang baik diharapkan rekruitmen pemain berkualitas dapat meningkatkan prestasi.

Semua elemen Persib baik itu bobotoh, manajemen, sponsor bahkan konsorsium sekalipun harus saling memahami bahwa saat ini prestasi Persib sedang mengecewakan. Akan tetapi tidak menjadi alasan bagi semua elemen di atas untuk tidak lagi peduli dan mencintai Persib.

Bobotoh harus lebih kritis untuk mendorong manajemen agar rela berkorban harta yang membuat sponsor tetap mendukung Persib sehingga konsorsium tetap bersedia mendanai Persib. Ibarat film Remember The Titans di atas, tidak alasan mendiskreditkan satu pihak sebelum ada bukti dan fakta adanya keberpalingan salah satu dari semua elemen tersebut.

Menerima perbedaan perlu belajar. Jangan pernah membeda-bedakan sesuatu, baik itu agama, warna kulit, status sosial dan semacamnya, karena yang perlu dilakukan saat ini tanpa mencurigai perbedaan. Belajar dan terima makna perbedaan itu. ‎Akhir kata: LET'S KICK RACISM OUT OF PERSIB!
Sumber: OkeZone
By: BP

0 comments:

Post a Comment

 
 
 
 
Copyright © Persib Online
Powered by Blogger