AKHIR-akhir ini saya selalu dikuntit perasaan waswas, khawatir, dan takut kehilangan Persib. Padahal sebagai urang Bandung, seratus persen saya tidak mau kehilangan Persib. Namun setelah Persib babak belur dihajar Deltras Sidoarjo 1-4 pada pertandingan kedua Liga Super Indonesia 2010-2011, Sabtu (2/5), saya dihadapkan pada kenyataan: kita telah kehilangan Persib.
Melihat Nova Arianto dan kawan-kawan kocar-kacir oleh anak-anak Sidoarjo, kita benar-benar telah kehilangan Persib yang dulu disegani lawan-lawannya karena permainan cantiknya dan keperkasaannya.
Di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, saat Persib dijamu Deltras, kita tidak menemukan permainan cantik yang sudah menjadi ciri permainan tim Maung Bandung. Padahal permainan cantik adalah juga kekuatan tim Persib. Dan kita sudah kehilangan semua itu.
Saya tidak tahu pasti tentang "dapur" tim Persib. Namun dari banyak laporan jurnalistik lewat media-media di Bandung dan juga nasional, Persib memang sedang dirundung banyak masalah ketika melangkah ke arena Liga Super Indonesia tahun ini.
Lihat saja, Persib mendepak Daniel Darko Janackovic di awal kompetisi. Persib akhirnya dipimpin oleh Jovo Cuckovic yang sebelumnya menjadi asisten Darko. Ironisnya, di kandang Persela, Jovo hanya bisa memimpin pasukan Maung Bandung dari balik pagar stadion karena konon Persib belum menuntaskan surat-surat sebagai syarat administrasi untuk melegalkan Jovo sebagai arsitek tim Maung Bandung.
Alhamdulillah Jovo sudah bisa memimpin Persib di pinggir lapangan ketika Persib bertandang ke kandang Deltras. Sayang, Persib justru kebobolan empat gol dan hanya berhasil mengoyak gawang Deltras lewat sontekan Pablo Frances.
Ada banyak suara yang menyebutkan bahwa Persib sudah lama tidak lagi bisa bermain cantik dan digdaya. Puasa gelar juara selama lebih dari sepuluh tahun menjadi bukti bahwa Persib benar-benar tidak seperti dulu lagi. Bila tolok ukurnya gelar juara yang selalu gagal dibawa pulang ke Bandung selama lebih dari sepuluh tahun, tentu kita tidak bisa menyalahkan Jovo atau misalnya H Umuh Muhtar yang musim ini memasuki tahun kedua menjabat manajer Persib.
Sangat mungkin kompetisi Liga Super kualitasnya jauh di atas zaman Perserikatan. Bila kualitas kompetisi berkorelasi dengan kualitas klub, boleh jadi klub-klub yang menjadi lawan Persib sejak era Liga Indonesia hingga era Liga Super memiliku kualitas yang merata atau bahkan lebih kuat dibanding Persib.
Pertanyaannya kenapa klub lain bisa berbenah dan lahir menjadi klub kuat, Persib justru kebalikannya. Padahal soal dana, dilihat dari sponsor yang melekat di jersey tim Maung Bandung, Persib berada di barisan paling depan.
Tentu untuk mengembalikan keperkasaan Persib (plus permainan cantiknya itu), tidak dengan menghadirkan Ajat Sudrajat, Yusuf Bachtiar, Adeng Hudaya, Robby Darwis, Sobur, Sukowiyono, Dede Iskandar, Jajang Nurjaman, dan banyak lagi nama yang pernah mempersembahkan gelar juara untuk Persib.
Untuk menghadirkan masa keemasan Persib, tentu kita juga tidak harus berpikir picik. Misalnya dengan menciptakan Persib yang sepenuhnya diperkuat pemain-pemain dari Bandung atau Jawa Barat. Ingat, Kang, sekarang zaman sudah berubah. Di era kompetisi profesional, tidak bisa mengurung diri dalam tempurung kedaerahan. Tidak ada salahnya kita memakai pemain dan pelatih asing, seperti yang dilakukan banyak klub-klub pesaing Persib. Tidak diharamkan belanja pemain terbaik (mau lokal atau asing) untuk mengejar gelar juara. Tidak juga Persib. (*)
Sumber: Tribun
By: BP
0 comments:
Post a Comment